Senin, 22 April 2019

MASALAH TALQIN


Hadits tentang Talqin diterima para ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata
dalam kitab Talkhish al-Habir :


“Sanadnya shalih (baik). Dikuatkan Imam Dhiya’uddin dalam kitab Ahkam-nya”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan lima riwayat lain yang semakna dengan hadits ini sehingga membuatnya menjadi riwayat yang kuat.

Pendapat Ahli Hadits Imam Ibnu ash-Sholah (643H/1161M – 643H/1245M):






Syekh Abu ‘Amr bin ash-Sholah ditanya tentang talqin, ia menjawab: “Talqin yang kami pilih dan yang kami amalkan, telah diriwayatkan kepada kami satu hadits dari hadits Abu Umamah, sanadnya tidak tegak/tidak kuat. Akan tetapi didukung hadits-hadits lain yang semakna dengannya dan dengan amalan penduduk negeri Syam sejak zaman dahulu.


Pendapat Imam Ibnu al-‘Arabi (468H/1078M – 543H/1148M):

Ibnu al-‘Arabi berkata dalam kitab al-Masalik: “Apabila mayat dimasukkan ke dalam kubur, dianjurkan agar di-talqin-kan pada saat itu. Ini adalah perbuatan penduduk Madinah dan orang- orang shaleh pilihan, karena sesuai dengan firman Allah Swt:  “Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. adz-Dzariyat [51]: 55). Seorang hamba sangat butuh untuk diingatkan kepada Allah ketika ditanya malaikat.


Para ulama mazhab Syafii menganjurkan talqin mayat setelah dikuburkan, ada seseorang yang duduk di sisi kubur bagian kepala dan berkata: “Wahai fulan bin fulan, wahai hamba Allah anak dari hamba Allah, ingatlah perjanjian yang engkau keluar dari dunia dengannya, kesaksian tiada tuhan selain Allah, hanya Dia saja, tiada sekutu baginya, sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, sesungguhnya surga itu benar, sesungguhnya neraka itu benar, sesungguhnya hari berbangkit itu benar, sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, tiada keraguan baginya, sesungguhnya Allah membangkitkan orang yang di kubur, sesungguhnya engkau ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, al-Qur’an sebagai imam, Ka’bah sebagai kiblat, orang-orang beriman sebagai saudara”. Syekh Nashr menambahkan: “Tuhanku Allah, tiada tuhan selain Dia, kepada-Nya aku bertawakkal, Dialah Pemilik ‘Arsy yang agung”. Talqin ini dianjurkan menurut mereka, diantara yang menyebutkan secara nash bahwa talqin itu dianjurkan adalah al-Qadhi Husein, al-Mutawalli, Syekh Nashr al- Maqdisi, ar-Rafi’i dan selain mereka.


Dianjurkan berdiam diri sejenak di sisi kubur setelah pemakaman, berdoa untuk mayat dan memohonkan ampunan untuknya, demikian disebutkan Imam Syafi’i secara nash,  disepakati oleh para ulama mazhab Syafi’i, mereka berkata: dianjurkan membacakan beberapa bagian al- Qur’an, jika mengkhatamkan al-Qur’an, maka afdhal. Sekelompok ulama mazhab Syafi’i berkata: dianjurkan supaya ditalqinkan.


Pendapat Imam Ibnu Taimiah (661H/1263M – 728H/1328M):
Talqin yang disebutkan ini telah diriwayatkan dari sekelompok shahabat bahwa mereka memerintahkannya, seperti Abu Umamah al-Bahili dan lainnya, diriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw, akan tetapi tidak dapat dihukum shahih, tidak banyak shahabat yang melakukannya, oleh sebab itu Imam Ahmad dan ulama lainnya berkata: “ Talqin ini boleh dilakukan, mereka memberikan rukhshah (dispensasi keringanan), mereka tidak memerintahkannya. Dianjurkan oleh sekelompok ulama mazhab Syafi’i dah Hanbali, dimakruhkan sekelompok ulama dari kalangan mazhab Maliki dan lainnya.

Pendapat Syekh Abdullah bin Muhammad ash-Shiddiq al-Ghumari (1328H/1910M – 1413H/1992M)11:

Sesungguhnya talqin telah dilaksanakan di negeri Syam sejak zaman Imam Ahmad bin Hanbal dan lama sebelumnya, juga di Cordova (Spanyol) dan sekitarnya kira-kira abad ke lima dan setelahnya hingga sekitar Andalusia. Beberapa ulama dari kalangan Mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali membolehkannya. Hadits riwayat Abu Umamah adalah hadits dha’if, akan tetapi al- Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Talkhish al-Habir: sanadnya shahih.

Pendapat Syekh ‘Athiyyah Shaqar Mufti Al-Azhar (1914 – 2006M)13:
Talqin tidak memudharatkan bagi orang yang masih hidup dan orang yang sudah wafat, bahkan memberikan manfaat bagi orang yang masih hidup, sebagai peringatan dan pelajaran, maka tidak ada larangan membacakan talqin untuk mayat.

Jika menerima perbedaan dengan sikap berlapang dada, tentulah pendapat para ulama di atas sudah cukup. Tapi jika yang dibangkitkan adalah semangat fanatisme golongan, seribu dalil tak pernah cukup untuk memuaskan hawa nafsu.

(sumber: 37 MASALAH POPULER, H. Abdul Somad, Lc,. MA)




Minggu, 21 April 2019

AKU MENINGGALKANNYA KARENA ALLAH

Rosululloh Sholalloohu alaihi wassalam bersabda:
"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah azza wa jalla kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik bagimu" (HR Ahmad no. 23074)

Fiqih hadits:
Pertama: Lafal "syai'an" (sesuatu) adalah kalimat nakiroh dalam konteks kalimat nafyi (negasi) memberikan faedah keumuman. Artinya "sesuatu" apa saja yang engkau tinggalkan karena Allah.
Bisa jadi sesuatu yang ditinggalkan adalah :
(1) Perkara yang haram yang sangat mungkin ia lakukan akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah. seperti:
* Seseorang yang kaya raya karena bekerja sebagai pegawai perusahaan yang berpenghasilan riba, lalu ia meninggalkan pekerjaan yang menggiurkan tersebut.

* Seseorang yang tergerak hatinya untuk bermaksiat, sangat berkesempatan untuk berzina, atau untuk menyaksikan tayangan yang haram dam vulgar, lalu ia meninggalkannya karena Allah.
* Seseorang yang diajak untuk bermaksiat akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah.
(2) Perkara yang halal, akan tetapi ditinggalkan karenna adakemaslahatan yang besar, Contoh:
* Seseorang yang memiliki harta untzk membeli sesuatu yang ia sukai, akan tetapi ada panggilan untuk melaksanakan ibadah umroh yang juga membutuhkan dana yang besar maka ia meninggalkan perkara yang ia sukai karena Allah demi menjalankan ibadah umroh.

* Seseorang yang memiliki harta untuk membeli kebutuhannya akan tetapi ternyata ada kerabatnya atau saudaranya sesama muslim yang membutuhkan bantuannya. maka iapun meninggalkan untuk membeli kebutuhannya tsb demi untuk membantu saudaranya tersebut.
* Seseorang yang dipanggil untuk tamasya gratisan dan ia sangat senang untuk melakukannya, akan tetapi ternyata jadwal tamasya tersebut bertepatan dengan jadwal pengajian, lalu ia meninggalkan tamasya tersebut agar bisa mengikuti pengajian.
(3) Perkara yang telah digariskan Allah terpaksa ia tinggalkan dengan niat karena Allah. Contohnya:
Seseirang yang meninggalkan harta dan tanah kelahirannya karena ditekan oleh orang kafir.

KEDUA : Lafal "Lillah" (karena allah), mengingatkan bahwa motivasi untuk meninggalkan "sesuatu" tersebut harus semata mata karena Allah, karenanya tidaklah termasuk dalam kategori "karena Allah" :
+ Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena takut cibiran dan celaan masyarakat.
+ Sesorang yang meninggalkan kemaksiatan karena takut kesehatannya terganggu.
+ Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena ingin dipuji oleh masyarakat.
+ Seseorang yang meninggalkan perbiatan yang haram karena tidak enak sama teman temannya.
KETIGA: Lafal "Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik bagimu daripada yang engkau tinggalkan"
Lafal "maa"(yang lebih baik) adalah maa almaushulah yang dalam kaidah juga memberikan faedah keumuman. Karenaya bisa jadi:
# Allah mengganti dengan perkara sejenis, hanya saja lebih baik
# Allah mengganti dengan perkara yang leVih baik namun tidak sejenis.
# Allah mengganti baginya dengan menghilangkan musibah/bencana/kesulitan yang tadinya akan menghadangnya.
KEEMPAT: Contoh contoh kisah akan bukti hadits ini:
(1) Para sahabat kaum muhajirin harus meninggalkan tanah air, rumah dan harta mereka untuk berhijarah ke Madinah sehingga bisa ibadah dengan baik tanpa diintimidasi oleh kaum musyrikin arab.
Akhirnya Allah menggantikan bagi mereka harta yang lebih banyak dan kekuasaan serta kemenangan atas kaum musyrikin, bahkan Allah menjadikan mereka menguasai kembali tanah air mereka Mekah. (Lihat tafsir alkariim ar rahman hal. 712)
(2) Kisah Nabi Sulaeman Alaihis salam, yang meninggalkan kuda kuda kesenangannya dengan menyambelihnya karena telah melalaikan beliau hingga tidak sempat shalat di petang hari hingga matahari tengelam. Ia pum menyambelih kuda kuda tsb dan menyumbangkannya karena Allah.
Akhirnya Allah mengganti kuda kuda tsb dengan angin yang mengalir ke arah yang dikehendaki oleh Nabi sulaeman alaihis salam.(Lihat tafair Al karoom ar rahman hal 712)
(3) Kisah Nabi Ibrahim Alaihis salam, yang harus meninggalkan kaumnya kerabat dan keluarganya yang menyembah patung lalu berhijrah ke Palestina.
Maka Allah menggantikan baginya anak anak yang sholeh. Diantaranya Ishak Alaihis salaam yang dilahirkan oleh Sarah yang telah mencapai usia menopouse.
Allah berfirman
Maryam:49 - Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.
(Lihat kitab Tafsir As sirooj al muniir Karya asy syirbini)

Tentunya meninggalkan kerabat dan kampung halaman merupakan perkara yang berat , akan tetapi Ibrahim alaihis salaam meninggalkannA karena Allah (Tafsiir al kariim ar rahman hal. 494)
(4) Barang siapa yang menjaga pandangannya dengan meninggalkan memandang perkara perkara yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada pandangannya dan menambah manis imannya. (Lihat tafsir al kariim ar rahman hal 566)
(5) Kisah tentang Aisyah Rodhiyallohu anhaa yang sedang berpuasa, lalu ada seorang miskin yang datang meminta makanan kepada Aisyah, sementara Aisyah hanya memiliki sepotong roti. Lalu Aisyah memerintahkan budak wanitanya untuk memberikan sepotong roti tersebut kepada sang miskin. maka sang budak berkata "Engkau bakalan tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa" akan tetapi Aisyah tetap memerintahkan untuk memberikan roti tersebut kepada sang miskin.
Maka ternyata tatkala sore hari ada seseorang datang memberikan hadiah seekor kambing yang sudah dimasak untuk Aisyah. (Lihat tafsir al Qurthubi 18/26)
(6) Kisah tentang Ummu Sulaim yang anaknya meninggal lalu tatkala datang sang suami maka iapun menghias dirinya untuk merayu sang suaminya yakni Abdullah bin Abi Thalhah yang baru datang dari safar agar terlalaikan berita kematian anaknya. Ummu Sulaim telah sabar tatkala harus meninggalkan anaknya yang meninggal tersebut.
(7) Sebuah kisah yang disebutkan dalam kitab tafsir Al badr Al Madid karya Ibunu ajiibah Abul Abbaass Al-Faasi tentang seorang pemuda penuntut ilmu yang tinggal di daerah faas,. Suatu hari ada seorang ibu keluar bersama putrinya yang cantik jelita. Terrnyata sang putri ketinggalan dari ibunya sehingga tertahan hingga malam hari . lalu ia melihat dari kejauhan sebuah pintu yang nampak ada lampu nyala. Lalu ia mengintip dari balik pintu tersebut ternyata ada seorang penuntut ilmu yang sedang membaca buku. Dalam hatinya putri cantik ini berkata "Jika tak ada kebaikan pada pemuda ini maka tidak ada kebaikan pada seorangpun" Lalu ia memberanikan diri mengetuk pintu, lalu dijawab oleh sang pemuda. Lalu sang putri menceritakan tentang kondisinya. Maka sang pemuda merasa wajib baginya untuk menjaga putri tersebutPemuda tsb memasukan putri tsb kedalam rumahnya dengan menjadikan tikar sebagai penghalang antara dia dengan sang putri.Pemuda itu melanjurkan membaca buku sampai datanglah syetan menggoda.
Akan tetapi karena keberkahan ilmu maka Allah pun menjaga pemuda ini. Ia pun segera mengambil api lampu lalu ia memanaskan jarinya satu demi satu hingga tiba waktu pagi. lalu ia mempersilahkan putri keluar dari rumahnya untuk segera pulang.
Sang putri pulang dan menceritakan tentang kisah sang pemuda kepada ayahnya. maka segeralah ayah sang putri mendatangi majelis ilnu dan mengabarkan tentang kisah sang pemuda kepada syaikh/guru di majlis tsb. Lalu sang guru meminta semua penuntut ilmu mengeluarkan kedua tangan mereka. seluruh muridpun mengeluarkan tangan mereka kecuali pemuda itu. Maka syaikhpun tahu siapa pemuda tsb. akhirnya sang ayah menikahkan sang pemuda dengan putrinya tsb. (Al-Badr al madiid 3/375)
Karenanya yakinlah jika anda meninggalkan sesuatu benar benar tulus semata mata karena Allah maka pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik.
Sungguh hati ini sangat terharu saat mengetahui ada seorang pegawai bank yang akhirnya meninggalkan pekerjaan ribanya lalu kemudian dengan sabarnya menjadi seorang penjual bakso. Allah pasti akan menggantikan baginya dengan yang lebih baik. Apakah didunia atau diakherat, cepat ataupun lambat.
penulis:
Ust.Dr. firanda Andirja, Lc,MA.

sumber:
Buletin Jumat Al-hikmah

Senin, 01 April 2019

ALQURAN TARJAMAH BASA SUNDA SURAT YAASIIN

TARJAMAH BASA SUNDA SURAT YAASIIN

Kalayan nyebat Asma Allah anu Maha Asih tur Maha Heman

1. YAA SIIN
2. Demi Al-Qur'an anu pinuh hikmah
3. Saestuna, anjeun (Muhammad) nyaeta salah saurang tina rosul-rosul,
4. (Anu aya) dina jalan anu lempeng
5. (sabage wahyu) anu diturunkeun ku (Allah) anu Maha bedas, Maha heman
6. Sangkan anjeun mere pepeling ka hiji kaum anu karuhunna can pernah dibere pepeling, balukarna eta maranehna hare-hare.
7. Saestuna, pasti lumaku omongan(hukuman) pikeun kalobaanana maranehanana kusabab maranehanana teu ariman,
8. Saestuna, Kami geus masangkeun belenggu dina beuheung maranehna, tuluy leungeun maranehna (diangkat) kana gado, balukarna eta maranehna tanggah.
9. Jeung Kami jadikeun di hareupeun maranehna panghalang (tembok) jeung di tukangeun maranehna oge aya panghalang, Jeung Kami tutup (Panon) maranehna balukarna maranehna teu bisa ninggali
10. Jeung da sarua wae pikeun maranehna mah, rek ku anjeun dibere pepeling ka maranehna atawa anjeun heunteu  mere pepeling ka maranehna, Maranehna anger moal arariman 
11. Saestuna. anjeun ngan mere pepeling ka jalma-jalma anu daek nuturkeun pepeling jeung anu sieun ka Pangeran anu maha Asih, Sanajan maranehna teu ninggali ka Mantenna. Matak sok bere kamaranehna kabar gumbira ku pangampura jeung pahala anu mulya.
12. Sa, jeung nya Kami anu nyatet naon rupa anu ku amaranehna dipilampah jeung patilasan(tapak) anu ku maranehna ditinggalkeun. Saestuna, nya Kami anu ngahirupkeun jalma-jalma anu maot, Jeung sagala perkara ku Kami dikumpulkeun dijero Kitab anu eces (Lauh Mahfuzh)

AL-QURAN JEUNG TARJAMAH BASA SUNDA SURAT AL-FATIHAH


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) 
Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) 
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) 
Yang menguasai  hari pembalasan (4) 
Hanya Engkaulah yang kami sembah,  dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) 
Tunjukilah  kami jalan yang lurus (6) 
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) 
(surat Al Faatihah : 1-7)



TARJAMAH BASA SUNDA SURAT AL-FATIHAH

Kalayan nyebat Asma Allah anu Maha Asih tur Maha Heman (1). 
Sagala Pujian kagungan Allah, Pangeran sadaya alam (2). 
Nu Maha Asih Nu Maha Heman (3) 
Anu ngawasa dina poe pangwalesan (4) 
Mung ka Gusti abdi sadaya nyembah, sareng mung ka Gusti abdi sadaya nyuhunkeun pitulung (5). 
Paparin abdi sadaya pituduh kana jalan anu lempeng (6). 
Nyaeta jalanna jalma-jalma  anu parantos ku Gusti dipaparin kanikmatan ka maranehanana. Sanes jalan jalma-jalma anu ku Gusti dipikabendu, oge sanes jalan jalma-jalma anu salasar (7)

Aamiin

APAKAH KAMU MENYESALI PILIHANMU MENJADI ORANG YANG BERIMAN?

 Assalamualaikum Wr Wb Sahabat Iman yang dirahmati Allah SWT. Diantara konsekwensi menjadi orang beriman (memilih untuk beriman) adalah mend...